Skip to main content

Para Pelaku UMKM Perlu Lakukan Ini Untuk Meningkatkan Usahanya

Para Pelaku UMKM Perlu Lakukan Ini Untuk Meningkatkan Usahanya

Para Pelaku UMKM Perlu Lakukan Ini Untuk Meningkatkan Usahanya - Akses permodalan dan juga akses pemasaran adalah dua hal penting yang dapat menentukan bisa tidaknya sebuah UMKM naik kelas, melakukan ekspansi serta dapat meningkatkan skala usahanya menuju ke arah kelas yang lebih tinggi.

Tentunya dengan semakin tingginya kelas yang ingin dicapai, maka akan semakin besar juga besaran nominal modal yang akan dibutuhkan.

Nah berikut di bawah ini ada beberapa tips yang perlu dilakukan oleh para pelaku UMKM sebelum mengakses modal untuk meningkatkan usahanya.

Menghitung kebutuhan modal sesuai rencana usaha

Menyusun rencana usaha (business plan) yang matang tentunya sebuah hal yang mutlak yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha sebelum mengakses permodalan.

Terlebih lagi jika modal usaha yang ingin diakses cukup besar lebih dari Rp 500 juta. Pada Rencana Usaha, tentu saja harus tertuang target-target kinerja yang utama (Key Performance Indicator) yang ingin dicapai oleh perusahaan ke depannya.

Baik itu hal yang berupa tingkat omset atau dari segi pendapatan, margin laba, hal yang dapat meningkatkan nilai aset, ataupun tentang kapasitas produksi yang bisa dilakukan.

Kebutuhan untuk modal usaha sebaiknya dihitung berdasarkan semua kebutuhan dari perusahaan untuk dapat mencapai target-target tersebut. Misalnya sebagai contoh target dalam 3 tahun ke depan, perusahaan harus dapat meningkatkan pendapatan usahanya menjadi 10 kali lipat.

Untuk itu, maka jaringan distribusi tentunya harus diperluas lagi dari 100 menjadi 1500 mitra usaha penjualan, sehingga nantinya kapasitas produksi pun harus ikut ditingkatkan agar mampu memasok kebutuhan 1500 mitra usaha penjualan tersebut.

Kemudian buat juga rincian yang dapat menopang biaya tetap (overhead) untuk biaya operasional usaha yang disebut sebagai operational expenditure (OPEX), umumnya hal ini mencakup tentang gaji karyawan, biaya air, penggunaan listrik, biaya akses internet, pembelian bahan baku, dan lain sebagainya.

Mengenal ragam akses permodalan

Jenis akses modal usaha tentunya ada yang bersifat sebagai modal pinjaman (harus dicicil dan harus kembalikan). Ada yang berupa penanaman modal atau disebut juga ekuitas (modal yang tidak perlu dikembalikan, tetapi berbagi kepemilikan usaha dan juga pengendalian perusahaan).

Pinjaman atau kredit untuk modal usaha pun bermacam-macam jenisnya. Ada kredit yang Syariah, ada juga pinjaman yang Konvensional.

Ada kredit yang bersifat investasi (untuk membiayai kebutuhan capex), ada kredit untuk keperluan modal kerja (untuk membiayai opex), ada juga kredit yang ditujukan sebagai dana talangan yang berupa invoice financing.

Keseluruhan dari ragam akses permodalan ini tentunya perlu dipahami oleh pelaku usaha serta dikaitkan dengan kebutuhan yang spesifik dari perusahaan di saat tertentu.

Menghitung aset dan nilai perusahaan untuk keperluan negosiasi

Aset perusahaan tentu saja tidak sama dengan nilai perusahaan. Namun keduanya harus dihitung dalam negosiasi terutama dengan para calon investor.

Dalam praktiknya, para penyedia dana pinjaman modal pada saat ini ada yang konservatif (tetap memegang prinsip-prinsip yang baku dan tradisional di dunia perbankan) dan ada juga yang lebih progresif.

Perbankan secara umum merupakan pinjaman yang konservatif, karena di dalam cara mengevaluasi permohonan kredit dari pemohon, nilai aset yang akan dievaluasi hanya berupa aset tetap, khususnya aset yang berupa tanah dan bangunan. Untuk aset lain seperti mesin, atau bahkan kendaraan umumnya tidak akan diterima.

Sementara pinjaman modal yang lebih progresif antara lain seperti perusahaan leasing yang memang khusus menyediakan penyaluran kredit untuk digunakan membeli kendaraan, pegadaian (di mana sebuah laptop sekalipun dapat diterima untuk digadaikan atau sebagai jaminan walaupun valuasi atau penilaiannya dapat membuat para pemohon pinjaman ini agak gigit jari, misalnya sebagai contoh gadai laptop cuma dihargai 1 juta rupiah).

Mendiskusikan detail perjanjian dengan para calon investor

Setelah mengetahui persis dengan aset dari perusahaan, mulai dari aset yang tradisional sampai dengan aset digital, aset yang berwujud sampai dengan aset yang tidak berwujud, maka kita akan tahu dengan jelas bagaimana posisi tawar.

Terlepas dari berapa profil aset perusahaan, penting juga untuk bisa mengetahui aspek-aspek dari perjanjian yang tentunya penting sekali untuk diperhatikan, terutama sebelum menandatangani perjanjian atas kerjasama untuk permodalan.

Untuk skema ekuitas, yang terpentingnya adalah berapa besaran suntikan modal, persentase saham yang diminta, dukungan untuk non-finansial yang diberikan oleh investor (seperti mentor ahli, teknologi, jaringan, dan lain-lainnya).

Kemudian masalah penempatan direksi atau penempatan untuk komisaris oleh investor, dan juga tentang prosedur tata kelola yang ingin diterapkan di perusahaan, khususnya yang terkait dengan keuangan (seperti apakah untuk setiap pengeluaran memerlukan tanda tangan dari pihak investor dulu sebelum dikeluarkan, dan lain sebagainya).

Mengevaluasi besaran biaya modal

Semakin besar jumlah modal usaha yang ingin diakses, pada umumnya ini akan semakin banyak pihak-pihak yang ingin ditemui agar dapat semakin menambah referensi.

Mengevaluasi biaya modal untuk bunga pinjaman seperti 12 persen per tahun apakah hal tersebut lebih mahal atau malah lebih murah jika dibandingkan dengan melepas saham 10 persen?

Tentunya ada kebebasan apabila meminjam modal dengan pihak bank yang tidak menuntut laporan selama melakukan pembayaran cicilan dengan lancar.

Jika kita melepas saham yang akan diminta untuk laporan rutin tetapi perusahaan juga nantimya justru akan bisa mendapat masukan dari para mitra investor. Murah atau mahalnya tidak akan bisa dinilai dari besaran biaya serta dari manfaat nominal uang saja, namun tentunya dari aspek non uang juga perlu dievaluasi.